Tugas Makalah Ilmu Sosial Dasar

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT, karena atas berkat dan limpahan rahmatNya lah maka kami telah menyelesaikan sebuah karya tulis ini.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Hubungan Masyarakat sebagai Makhluk Sosial", yang menurut kami dapat memberikan manfaat besar bagi kita untuk dipelajari.
Melalui kata pengantar ini, penulis lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.
Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga ALLAH SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.

Jakarta, 10 Januari 2016
Penulis











A.    Latar Belakang

Manusia dalam kehidupannya tidaklah bergantung pada diri sendiri. Setiap tindakan yang akan di lakukan seorang manusia, pasti berhubungan dan membutuhkan orang lain.

Manusia selain disebut sebagai makhluk individu. Manusia juga disebut sebagai makhluk sosial. Manusia dengan kodratnya sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup seorang diri. Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan manusia lainnya. Manusia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya sendiri, melainkan manusia butuh tenaga dari orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Kita tidak bisa melakukan sesuatu seenaknya sendiri, karena di sekitar kita juga ada orang lain yang pasti berhubungan dengan kita.

Sering kita lihat dan kita alami, bagaimana sulitnya kita menjalani hidup tanpa orang lain yang menemani, anggap saja jika seseorang dikucilkan, maka ia akan terpuruk sendiri menyelesaikan masalahnya tanpa ada yang membantu. Kemudian dapat berujung pada terganggunya emosi dan psikisnya. Karena itu, betapa pentingnya peran orang lain disekitar kita, baik untuk fisik, rohani maupun psikis kita.

B.    Pembahasan

1.      Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial 

Secara kodrat, manusia merupakan makhluk monodualistis, artinya selain sebagai makhluk individu, manusia juga berperan sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu bekerjasama dengan orang lain sehingga tercipta sebuah kehidupan yang damai. Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak.

Dengan bantuan orang lain, manusia bisa makan menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensinya kemanusiaannya. Seseorang memiliki sikap sosial apabila ia memperhatikan atau berbuat baik terhadap orang lain.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap sosial merupakan beberapa tindakan menuju kebaikan terhadap sesamanya. Selain itu, manusia dikatakan sebagai mahkluk sosial karena pada diri manusia ada dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan mencari kawan. Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasarkan kepentingan dan persamaan ciri.

Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai mahkluk sosial dengan beberapa alasan, yaitu :

o   Ada dorongan untuk berinteraksi.
o   Manusia tunduk pada aturan norma sosial.
o   Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan satu sama lain.
o  Potensi manusia akan benar-benar berkembang apabila ia hidup ditengah-tengah manusia.
Pengertian manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. Karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya.
Manusia tidak dapat menyadari individualitas, kecuali melalui medium kehidupan sosial. Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama, serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan.
Ø  Pengertian Manusia Sebagai Makhluk Sosial menurut para Ahli :

o   Menurut KBBI :
Makhluk social adalah manusia yang berhubungan timbal balik dengan manusia lain.

o   Menurut Elly M. Setiadi :
Makhluk social adalah makhluk yang didalam hidupnya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh orang lain.

o   Menurut Dr. Johannes Garang :
Makhluk social adalah makhluk berkelompok dan tidak mampu hidup menyendiri.

o   Menurut Aristoteles :
Makhluk sosial merupakan zoon politicon, yang berarti menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain

o   Menurut Liturgis :
Makhluk sosial merupakan makhluk yang saling berhubungan satu sama lain serta tidak dapat melepaskan diri dari hidup bersama.


2.      Hakekat Masyarakat dan Makna Manusia sebagai Makhluk Sosial

Dalam bahasa Inggris kata masyarakat disebut society, asal katanya socius yang berarti kawan. Adapun kata masyarakat berasal dari bahasa Arab yaitu syirk ,artinya bergaul. Adanya saling bergaul ini tentu karena ada bentuk-bentuk aturan hidup yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan, melainkan oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan (Soelaeman, 1989).

Dalam masyarakat manusia tidaklah dapat hidup sendiri. Mereka hidup berinteraksi dengan orang lain. Dalam interaksi itulah manusia harusnya memiliki suatu etika hidup bermasyarakat. Etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Nilai erat hubungannya dengan masyarakat, baik dalam bidang etika yang mengatur kehidupan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai sebagai suatu yang objektif, apabila ia memandang nilai itu ada tanpa ada yang menilainya, tetapi ada sebagian sesuatu yang ada dan menuntun manusia dan kehidupannya. Jadi nilai memang tidak akan ada dan tidak akan hadir tanpa hadirnya penilaian. Oleh karena itu nilai melekat dengan subjek penilaian (Hartomo, 1997).

Unsur masyarakat yang melekat adalah kebudayaan. Dimana budaya yang timbul dalam masyarakat dapat berupa tradisi, nilai, norma, upacara-upacara yang sudah melekat dalam interaksi sosial warga masyarakat. Manusia sejak ia lahir selalu  terikat dengan masyarakat. Masyarakat di sini dapat dihitung dari konteks masalah lingkungan. Sejak lahir manusia akan selalu berkaitan dengan lingkungan sekitarnya. Setiap masyarakat akan menerima pengaruh dari lingkungan sosial yang disebut masyarakat.

Penyebab manusia hidup bermasyarakat dan berinteraksi dengan orang lainya itu karena seseorang harus bergaul dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan itu dapat terwujud manakala seorang individu berbicara, berinteraksi dan saling berhubungan dengan masyarakat lain agar terciptanya lingkungan sosial atau interaksi sosial dalam masyarakat.

Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungan satu dengan yang lain.Unsur saling memerlukan muncul karena setiap manusia sebagai anggota masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhannya tanpa bantuan anggota lainnya. Jadi ada saling ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan psikologisnya. Dan disinilah sesungguhnya makna manusia sebagai makhluk sosial (Suratman dkk, 2013).

Ø  Faktor-faktor yang mendasari berlangsungnya interaksi sosial yaitu :

a)      Faktor imitasi (peniruan)

Imitasi adalah proses sosial atau tindakan seseorang untuk meniru orang lain melalui sikap, penampilan, gaya hidup atau apa saja yang dimiliki oleh orang lain tersebut. Misalnya seorang anak meniru kebiasaan-kebiasaan orang tuanya, baik cara berbicara atau tutur kata, cara berjalan, cara berpakaian dan sebagainya. Proses imitasi yang dilakukan oleh seseorang berkembang dari lingkup keluarga kepada lingkup lingkungan yang lebih luas, seperti lingkungan tetangga, lingkungan sekolah dan lingkungan kerja, seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan pergaulan orang tersebut. ruang lingkup imitasi menjadi semakin luas seiring denganberkembangnya media massa terutama media audio-visual (Herimanto, 2011).

b)      Identifikasi (menyamakan ciri)

Identifikasi adalah upaya yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk menjadi sama (identik) dengan seseorang atau sekelompok orang lain. Identifikasi dapat dinyatakan sebagai proses yang lebih dalam atau lebih lanjut dari imitasi. Apabila pada imitasi orang hanya meniru cara yang dilakukan oleh orang lain, maka dalam identifikasi ini orang tidak hanya meniru tetapi mengidentikkan dirinya dengan orang lain tersebut.

c)      Sugesti (diterimanya suatu sikap atau tindakan secara emosional)

Sugesti adalah rangsangan, pengaruh atau stimulus yang diberikan oleh seseorang kepada individu lain sehingga orang yang dipengaruhi tersebut menerima pengaruh tersebut secara emosional, tanpa berpikir lagi secara kritis dan rasional. Sugesti dapat diberikan dari seorang individu kepada kelompok, kelompok kepada individu ataupun kelompok terhadap kelompok. Wujud sugesti dapat bermacam-macam, dapat berupa tindakan, sikap perilaku, pendapat, saran dan pemikiran(Herimanto, 2011).



d)      Simpati (kemampuan merasakan diri dalam keadaan orang lain)

Simpati adalah suatu proses ketika seorang individu atau sekelompok individu tertarik kepada (merasakan diri) dalam keadaan orang atau kelompok orang lain sedemikian rupa sehingga menyentuh jiwa dan perasaannya. Dinyatakan sedemikian rupa karena dapat terjadi bagi jiwa dan perasaan orang lain, keadaan tersebut biasa-biasa saja, artinya tidak menimbulkan simpati. Karena merupakan proses kejiwaan, berlangsungnya tidak selalu mudah dipahami secara rasional (Herimanto, 2011)

3.      Fungsi dan Tugas Manusia sebagai  Makhluk Sosial

Manusia tidak hanya memiliki ciri khas, peranan khas tetapi juga memiliki pola tingkah laku yang spesifik baik di lingkungan masyarakat atau di lingkungan keluarga. Keluarga adalah wadah dimana seorang individu mempunyai suatu hubungan sosial di dalamnya. Keluarga tersebut terdiri dari seorang suami, seorang istri dan anak-anak mereka. Keluarga merupakan lembaga pertama yang menjadi wadah utama dalam pembinaan seorang individu. Dimana pola perilaku seorang individu akan tercermin dari perlakuan seorang individu bagaimana diperlakukan di dalam keluarganya. Menurut William J Goode (1983) dalam Munandar Soelaeman, secara umum fungsi keluarga meliputi pengaturan seksual, reproduksi, sosialisasi, pemeliharaan,penempatan anak dalam masyarakat, pemuas kebutuhan perseorangan dan sebagaikontrol sosial (Soelaeman, 1989).

a)      Pengaturan Seksual

Seperti yang dapat diketahui, kita dapat membayangkan bagaimana seorang anak yang lahir ke dunia ini tanpa seorang ayah, maksudnya disini tanpa seorang ayah yang sah. Tentu saja anak tersebut akan dipertanyakan dan pengalaman sosialisasinya tidak lengkap. Maka dari itu, di dalam masyarakat tidak dibenarkan adanya kelahiran di luar nikah. Oleh karena itu, maka akan menambah kerumitan dalam masyarakat jika tidak ada pengaturan seksual yang berlaku.

b)      Reproduksi

Berkembangnya teknologi kedokteran, selain memberikan dampak positif bagi program keluarga berencana, dapat pula menimbulkan masalah terpisahnya kepuasan seksual dengan pembiakan. Pandangan terhadap jumlah punya anak bermacam-macam, ada yang mengharapkan untuk jaminan bagi orang tua di masa depan, ada yang bermotivasi agama, ada alasan kesehatan dan sebagainya. Yang jelas, di suatu negara, bila alat kontraseptif mudah diperoleh dan banyak digunakan, ada keengganan untuk mempunyai anak, dan angka senggama sebelum pernikahanmenjadi meningkat (Suratman dkk, 2013).

c)      Sosialisasi

Masyarakat dan kebudayaan bergantung pada efektifnya sosialisasi di dalamnya, bagaimana seorang anak mempelajari sikap dan tingkah lakunya, bergantung juga pada kebudayaan di dalam keluarganya. Di dalam hubungan sosialisasi anak dengan keluarganya, dari situlah anak memperoleh landasan untukmembentuk kepribadian dan sikap serta perilaku sang anak tersebut. Dan itu semua juga berhubungan dengan kebudayaanyang di anut dan di lestarikan dalam suatukeluarga dan masyarakat tersebut.

d)      Pemeliharaan

Seorang wanita yang sedang hamil butuh perhatian, perlindungan dan pemeliharaan dalam rangka menjaga kondisinya agar siap untuk melahirkan seorang anak ke dunia. Begitu pula seorang anak yang telah lahir, ia membutuhkan kasih sayang dan pemeliharaan dari orang tuanya. Tanpa pemeliharaan dari orang tuanya,maka anak tidak akan dapat tumbuh sendiri. Manusia berbeda dari hewan yang dapat berdiri dan langsung mencari makanannya sendiri sejak ia baru di lahirkan. Manusia butuh orang lain dalam pemenuhan kebutuhan dan kelangsungan hidupnya. Maka tahap demi tahap manusia baru dapat berjalan dan akhirnya dewasa, dan itu pula tidak lepas dari peran orang lain di sekitarnya.

e)      Penempatan Anak di dalam Masyarakat

Dengan menentukan penempatan sosial seorang anak, pengaturan wewenang membantu menentukan kewajiban peranan orang-orang dewasa terhadap sang anak. Penempatan sosial ditetapkan oleh masyarakat atas dasar keanggotaan keluarga melalui pemberian orientasi hubungan seperti orang tua, saudara kandung, dan kerabat. Berikutnya penempatan sosial melalui orientasi individu pada kelompok lain yang secara sosial telah mapan, seperti hubungan nasional, etnik, agama,organisasi masyarakat, kelas dan sebagainya (Suratman dkk, 2013).

f)       Pemuas Kebutuhan Perseorangan

Sebuah keluarga belum lengkap jika belum mempunyai seorang anak. Anak menjadikan hubungan suami istri dalam suatu keluarga menjadi lebih erat dengan cinta kasih yang di bawa oleh sang anak. Bagaimana anak dilahirkan tanpa seorang ayah yang sah, maka anak tersebut akan mengalami penderitaan yang seharusnya tidak pantas ia yang rasakan. Seorang anak juga dapat memberikan kepuasan emosional di antara kedua orang tuanya. Kasih sayang kedua orang tua juga dapat memberikan kepuasan emosional dalam diri sang anak.

g)      Kontrol Sosial

Keluarga menjadi wadah utama dalam pembentukan karakter seorang anak, bagaimana ia akan bersikap dan berperilaku di luar lingkungan keluarganya. Maka kontrol sosial keluarga dalam arti seorang ayah dan seorang ibu sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak akan menjadi generasi penerus pada masa yang akan datang. Maka orang tua yang tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya dalam mendidik anaknya, maka anak tersebut tidak akan berperilaku dengan baik, karena keluarga sebagai suatu wadah pendidikan pertama dalam membentuk karakter anak dalam pergaulannya nanti di lingkungan masyarakat.

4.      Perbedaan Masyarakat Desa dan Kota

Masyarakat pedesaan selalu memiliki ciri-ciri atau dalam hidup bermasyarakat, yang biasanya tampak dalam perilaku keseharian mereka. Pada situasi dan kondisi tertentu, sebagian karakteristik dapat digeneralisasikan pada kehidupan masyarakat desa di Jawa. Namun demikian, dengan adanya perubahan sosial religius dan perkembangan era informasi dan teknologi, terkadang sebagian karakteristik tersebut sudah “tidak berlaku”. Masyarakat pedesaan juga ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama warga desa, yaitu perasaan setiap warga/anggota masyarakat yang amat kuat yang hakekatnya, bahwa seseorang merasa merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dimanapun ia hidup dicintainya serta mempunyai perasaan bersedia untuk berkorban setiap waktu demi masyarakatnya atau anggota-anggota masyarakat, karena beranggapan sama-sama sebagai masyarakat yang saling mencintai saling menghormati, mempunyai hak tanggung jawab yang sama terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama di dalam masyarakat.

Masyarakat desa ciri-cirinya :
o   Kehidupan di desa tenang,jauh dari hiruk pikuk keramahan
o   Penduduknya ramah-ramah,saling mengenal satu sama lain atas dasar kekeluaragaan
o   Mata pencaharian penduduk kebanyakan sebagai petani atau nelayan
o   Kehidupan kaum muda di desa merasa terkesan oleh adat istiadat

Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan.

Ada beberap ciri yang menonjol pada masyarakat kota yaitu :
o   Kehidupan keagamaan berkurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di desa
o    Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa bergantung pada orang lain
o   Pembagian kerja diantara warga kota juga lebih tegas dan punya batas-batas nyata
o   Di kota tinggal orang-orang dengan aneka warna latar belakang sosial, pendidikan menyebabkan individu memperdalam suatu bidang kehidupan
o   Khusus warga kota tidak mungkin hidup sendiri
o   Kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaannya juga lebih banyak di kota
o   Pikiran rasional umumnya dianut masyarakat kota
o   Jalan kehidupan yang cepat dikota mengakibatkan pentingnya faktor waktu
o   Perubahan sosial tampak nyata di kota, karena kota terbuka dalam menerima pengaruh dari luar.

Ada beberapa perbedaan pelapisan sosial yang tak resmi antara masyarakat desa dan kota :
o   Pada masyarakat kota, aspek kehidupannya lebih banyak sistem pelapisannya dibandingkan dengan di desa.
o   Pada masyarakat desa, kesenjangan antara kelas eksterm dalam piramida sosial tidak terlalu besar dan sebaliknya.
o   Masyarakat perdesaan cenderung pada kelas tengah.
o   Ketentuan kasta dan contoh perilaku.

5.      Bermasyarakat dalam Berbagai Jenis Kehidupan

Dalam kehidupan masyarakat dikenal adanya struktur sosial, struktur bisa diartikan sebagai susunan atau bentuk. Struktur tidak harus dalam bentuk fisik, ada pula struktur yang berkaitan dengan sosial. Struktur sosial yaitu tatanan atau susunan sosial yang membentuk kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat.
Sistem sosial merupakan kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian (elemen atau komponen), yaitu :
a)      Orang dan atau kelompok beserta kegiatannya.
b)      Hubungan sosial, termasuk di dalamnya norma-norma, dan nilai-nilai yang mengatur hubungan antar orang atau kelompok tersebut. Sistem sosial tercakup nilai-nilai dan norma-norma yang merupakan aturan perilaku anggota-anggota masyarakat. Dalam sistem sosial pada tingkat-tingkat tertentu selalu mempertahankan batas-batas yang memisahkan dan membedakan dari lingkungannya. Setiap individu adalah anggota dari suatu kelompok. Tetapi tidak setiap warga dari suatu masyarakat hanya menjadi anggota dari satu kelompok tertentu, ia bisamenjadi anggota lebih dari satu kelompok sosial.
Berkaitan dengan penempatan individu dalam kelompok sosial, maka individu memiliki kemampuan untuk :
1.      Menempatkan diri,
2.      Ditempatkan oleh orang lain dalam suatu lapisan sosial ekonomi tertentu. Penempatan seseorang dalam lapisan sosial ekonomi tertentu merupakan pembahasan stratifikasi sosial. Dalam kaitannya dengan stratifikasi sosial, dapat dibagi dalam tiga dimensi, yaitu dimensi kekayaan, dimensi kekuasaan, dan dimensi prestise. Dimensi kekayaan membentuk formasi sosial yang disebut kelas, dimensi kekuasaan membentuk partai, dan dimensi prestise membentuk status (Suratmandkk, 2013).

C.     Kesimpulan

Tanpa bantuan manusia lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang lain, manusia bisa menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara, dan bisa mengembangkan seluruh potensi kemanusiaannya.

Sebagai anggota masyarakat, manusia akan berkaitan dengan orang lain.manusia hidup bersama orang lain. itu berarti manusia tidak dapat melakukan tindakan sesuka hatinya karena ada orang lain yang menilai perilaku seorang manusia. Baik buruknya perilaku manusia ditentukan juga dari faktor lingkungan sosialnya, terutama lingkungan keluarganya. Karena keluarga merupakan dasar seorang anak bersikap dan berperilaku. Keluarga adalah wadah pertama yang menanamkan nilai moral seorang anak. Maka sikap dan perilaku seorang anak adalah cerminan dari bagaimana anak tersebut dibesarkan dalam suatu wadah keluarga untuk kelangsungan hidupnya di lingkungan masyarakat









DAFTAR PUSTAKA







                                                                                                                                                           
















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisi 2 buah Jurnal pada Komputasi Paralel

TUGAS PENGANTAR BISNIS INFORMATIKA

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR : MANUSIA DAN HARAPAN